Mata Kering Akibat Penggunaan Gadget yang Tidak Tepat


Era digital telah menciptakan gaya hidup baru. Penggunaan gadget, misalnya. Saat ini keberadaan gadget sudah sangat penting. Buktinya, banyak yang kelimpungan kalau gadget mereka ketinggalan atau habis baterai.
Padahal beriteraksi dengan gadget secara berlebihan, juga ada risikonya. Bahwa penggunaan gadget yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab terbesar meningkatnya tren sindrom mata kering. Bagaimana tidak, rata-rata durasi penggunaan internet di Indonesia mencapai 8 jam 51 menit setiap harinya atau menempati peringkat keempat dunia.
Penggunaan gadget, apalagi dalam waktu yang lama dan kurang tepat, tanpa disadari membuat mata menjadi lelah, perih, dan gatal, yang dapat menyebabkan gangguan yang akan berdampak serius pada kesehatan mata. Sayangnya, banyak orang kurang menyadari gejala-gejala ini adalah gangguan yang harus ditangani segera.
Hal inilah yang dipaparkan dr. Nina Asrini Noor, Sp.M dari Rumah Sakit (RS) Mata Jakarta Eye Center. Menurut dia, lebih dari 40 persen pasien yang terdeteksi sindrom mata kering, tidak merasakan gejala. Mengutip laporan US National Library of Medicine National Institute of Health (NCBI), sekitar 60 juta orang di dunia mengalami mata kering.
”Di Indonesia sendiri prevalensi mata kering pada 2017 mencapai 30,6 persen dari jumlah penduduk. NCBI juga mencatat terjadinya pergeseran obyek penderita mata kering. Yang semula kerap dikaitkan dengan pasien lansia, dan beberapa tahun terakhir banyak terjadi pada usia muda karena pergeseran gaya hidup. Terutama penggunaan media digital,” urai Nina di Surabaya, belum lama ini.
Sindrom mata kering (dry eye syndrome atau keratoconjunctivitis), papar Nina adalah suatu kondisi mata yang mengalami kekurangan cairan akibat air mata yang mudah menguap atau produksi air mata terlalu sedikit. Penyebab sindrom mata kering sebenarnya beragam, mulai dari usia, faktor lingkungan, seperti debu dan asap rokok, riwayat operasi mata, penyakit autoimun dan diabetes, penggunaan obat tertentu, seperti tetes mata, dan aktivitas penggunaan computer maupun gadget. "Penanganan dry eye syndrome yang tidak tepat bisa menimbulkan ketergantungan pada obat tetes mata. Bahkan sampai menurunkan kualitas hidup, menimbulkan efek lebih serius, hingga kerusakan pada kornea yang bisa jadi rusak permanen,” ungkapnya.
Sementara itu, dr. lsmi Zuhria, Sp.M dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jawa Timur sekaligus staf medis fungsional RSUD Dr. Soetomo Surabaya (FK Universitas Airlangga) menegaskan, jangan sepelekan gangguan mata kering karena bisa berakibat fatal. Ia menyarankan apabila terdapat keluhan dengan gejala-gejala, seperti mata gatal, lelah, mata merah, ada rasa mengganjal dan sensasi berpasir, rasa terbakar dan perih, mudah silau serta sensitif terhadap cahaya, juga penglihatan yang tidak fokus, segeralah periksakan kondisi mata ke dokter. ”Bisa juga mengonsumsi asupan gizi yang tepat, seperti omega 3. Dari beberapa penelitian pada kasus dry eye, konsumsi omega 3 dengan ratio DHA IEPA yang sesuai dapat menurunkan gejala dari sindrom mata kering. Omega 3 memiliki peranan dalam memperbaiki fungsi kelenjar air mata, sekaligus mengurangi inflamasi yang menyertai gejala dry eye,” kata Ismi. (opi)