Agaknya Karin, 28, adalah tipikal perempuan milenial. Baginya, punya anak setelah menikah bukanlah keharusan. Yang harus dilakukan adalah bikin anak by order, sesuai urutan.
Sayang, jalan pikirannya tak seiring dengan suaminya, Donwori, 30, dan keluarga besarnya. Yang pandangan tentang hidup masih saklek. Sesuai jadwalnya. Waktunya sekolah ya sekolah, kerja ya kerja, usia menikah ya menikah lalu punya anak banyak.
Karin sendiri menyebutkan, sejak awal ia memang tidak ada rencana mempunyai anak. Di saat pasangan lain terlalu bersemangat ingin punya anak hanya agar bisa lihat bayi lucu, Karin berpikir jauh ke depan. "Iyo pas bayi lucu-lucu ae. Lah saiki iso ta mbiayai sekolahe? Lihat saja, sekolah sekarang mahal. Bisa ta nyukupi anak biar sukses? Kok aku gak yakin," katanya di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.
"Coba lihat orang sekarang," lanjut Karin memuntahkan argumen. "Kerjaaannya (Donwori, Red) pas-pasan. Paling cuma cukup buat makan. Tapi, cek wanine punya banyak anak. Masih percaya banyak anak banyak rezeki, tapi gak perhitungan. Akhire anake terlantar terus. Kan kasihan," omelnya.
Belum puas, Karin kembali berargumen. Katanya, kalau berani punya anak, berarti kudu tanggung jawab. Artinya, diopeni beneran. Hidup harus berkecukupan. Jika mau apa saja, harusnya ya ada. Kalau tidak, katanya jangan berani-beraninya punya anak. Kasihan nanti anaknya.
Belum lagi jika terjadi kejadian tak terduga. Salah satunya perceraian. Ia tak mau menambah beban hidup dengan ngopeni anak. Sementara bapaknya bebas mencari pasangan lain. Cek soroe urip dadi perempuan, pikirnya. "Wes ta, 99 persen lelaki pasti ninggal anak ke istrinya. Coba kalau aku cerai punya anak, mau tak kasih makan apa?" lanjutnya, masih dengan semangat ngomel yang membara.
Tentu Karin sadar banyak orang mencibirnya dengan kata-kata ia terlalu pesimis menghadapi hidup. Tapi, kenyataan yang terjadi di lapangan memang sekejam ini. Mulut orang boleh licin, tapi kalau kesusahan, ia sendiri yang menanggung beban.
Karin juga mengaku salah. Sebelum menikah, ia tak buat kesepakatan dengan Donwori. Sehingga sejak lima tahun menikah, ia diburu agar cepat punya anak. Tak terhitung lagi oleh orang tua Donwori, Karin didesak-desak ngasih cucu. Selama ini, alasan Karin menolak adalah dengan kata-kata belum siap. Namun, karena semakin terpojokkan, Karin mundur. "Wes monggo kalau mau cari istri lagi, yang bisa ngasih banyak anak," pungkas sekretaris di salah satu perusahaan konstruksi di Surabaya ini. (*)
Sayang, jalan pikirannya tak seiring dengan suaminya, Donwori, 30, dan keluarga besarnya. Yang pandangan tentang hidup masih saklek. Sesuai jadwalnya. Waktunya sekolah ya sekolah, kerja ya kerja, usia menikah ya menikah lalu punya anak banyak.
Karin sendiri menyebutkan, sejak awal ia memang tidak ada rencana mempunyai anak. Di saat pasangan lain terlalu bersemangat ingin punya anak hanya agar bisa lihat bayi lucu, Karin berpikir jauh ke depan. "Iyo pas bayi lucu-lucu ae. Lah saiki iso ta mbiayai sekolahe? Lihat saja, sekolah sekarang mahal. Bisa ta nyukupi anak biar sukses? Kok aku gak yakin," katanya di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.
"Coba lihat orang sekarang," lanjut Karin memuntahkan argumen. "Kerjaaannya (Donwori, Red) pas-pasan. Paling cuma cukup buat makan. Tapi, cek wanine punya banyak anak. Masih percaya banyak anak banyak rezeki, tapi gak perhitungan. Akhire anake terlantar terus. Kan kasihan," omelnya.
Belum puas, Karin kembali berargumen. Katanya, kalau berani punya anak, berarti kudu tanggung jawab. Artinya, diopeni beneran. Hidup harus berkecukupan. Jika mau apa saja, harusnya ya ada. Kalau tidak, katanya jangan berani-beraninya punya anak. Kasihan nanti anaknya.
Belum lagi jika terjadi kejadian tak terduga. Salah satunya perceraian. Ia tak mau menambah beban hidup dengan ngopeni anak. Sementara bapaknya bebas mencari pasangan lain. Cek soroe urip dadi perempuan, pikirnya. "Wes ta, 99 persen lelaki pasti ninggal anak ke istrinya. Coba kalau aku cerai punya anak, mau tak kasih makan apa?" lanjutnya, masih dengan semangat ngomel yang membara.
Tentu Karin sadar banyak orang mencibirnya dengan kata-kata ia terlalu pesimis menghadapi hidup. Tapi, kenyataan yang terjadi di lapangan memang sekejam ini. Mulut orang boleh licin, tapi kalau kesusahan, ia sendiri yang menanggung beban.
Karin juga mengaku salah. Sebelum menikah, ia tak buat kesepakatan dengan Donwori. Sehingga sejak lima tahun menikah, ia diburu agar cepat punya anak. Tak terhitung lagi oleh orang tua Donwori, Karin didesak-desak ngasih cucu. Selama ini, alasan Karin menolak adalah dengan kata-kata belum siap. Namun, karena semakin terpojokkan, Karin mundur. "Wes monggo kalau mau cari istri lagi, yang bisa ngasih banyak anak," pungkas sekretaris di salah satu perusahaan konstruksi di Surabaya ini. (*)